INFO NASIONAL – PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) semakin menegaskan perannya sebagai penggerak utama transformasi industri tambang nasional. Pada 2024, holding BUMN tambang ini mencatatkan capaian bersejarah dengan menyetorkan dividen sebesar Rp20 triliun kepada Kementerian Keuangan. Angka ini bukan hanya simbol keberhasilan finansial, tetapi juga bukti nyata keberhasilan transformasi besar-besaran yang dilakukan MIND ID dalam lima tahun terakhir.
Pembentukan Holding
Di tahun 2019, kinerja BUMN tambang di bawah PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) belum seoptimal sekarang. Tahun-tahun itu, laba dan pertumbuhan BUMN tambang, seperti PT Aneka Tambang Tbk, PT Timah Tbk dan Indonesia Asahan Alumina masih kecil. Mungkin hanya PT Bukit Asam Tbk saja yang mencatatkan laba di atas Rp 2 triliun dengan pertumbuhan tinggi. Itu terjadi karena BUMN tambang waktu itu masih berdiri sendiri.
Tahun 2019 pula BUMN tambang mulai melakukan transformasi dengan membentuk holding di bawah pimpinan Indonesia Asahan Alumina (INALUM). Anggota holding INALUM awalnya adalah PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk, PT Aneka Tambang Tbk dan PT Indonesia Asahan Alumina (INALUM).
Gagasan holding awalnya dilakukan untuk membeli 51 persen saham Freeport Indonesia. Karena jika dibeli oleh BUMN, seperti ANTM atau INALUM saja, aset perusahaan masih sangat kecil, sementara kebutuhan untuk membeli 51 persen saham Freeport mencapai US$5 miliar. Cara paling strategis adalah membentuk holding BUMN tambang. Di tahun 2019-2022, anggota holding BUMN tambang masih dibawah komando INALUM. Laba INALUM tahun 2020 belum menembus angka Rp 2 triliun dan asetnya masih berkisar Rp 100 triliun.
Namun, penggabungan BUMN tambang menjadi cikal-bakal perusahaan BUMN tambang ini menjadi sangat besar. Dengan holding, INALUM mampu mengakusisi 51 persen saham perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar di dunia, Freeport Indonesia tahun 2019 senilai US$5 miliar.
Freeport kemudian ikut andil mendongkrak laba dan dividen BUMN tambang. Dividen dari Freeport ke MIND ID dan kas negara sudah mencapai Rp 90 triliun. Artinya, investasi INALUM dulu untuk membeli Freeport sudah mendapat untung.
Lahirnya holding juga membuat BUMN tambang berhasil membeli 14 persen saham perusahaan nikel terbesar di tanah air, PT Vale Indonesia Tbk. Dengan membeli 14 persenn saham, MIND ID mengontrol mayoritas saham Vale senilai 34 persen karena sebelumnya sudah memiliki 20 persen saham.
Sementara saham Vale Canada berkurang dari 44 persen menjadi 33 persen. Vale memiliki wilayah operasi tambang nikel terbesar mulai dari Sorowako, Sulawesi Selatan, Bahodopi (Sulawesi Tengah) dan Sulawesi Tenggara. Dengan trend ke kendaraan listrik, nikel menjadi salah satu mineral strategis untuk menopang pembangunan ekosistemnya. Dengan demikian, akusisi saham Vale sangat menguntungkan bisnis MIND ID ke depan.
Tahun 2023, BUMN tambang terus bertransformasi. INALUM kemudian fokus pada lini bisnis sendiri mengolah bauksit menjadi alumina ingot atau fokus mengurus bisnis aluminum nasional. INALUM adalah salah satu produsen aluminium terbesar di Asia dengan produksi mencapai 500.000 ton per tahun. Yang memimpin semua BUMN tambang kemudian adalah MIND ID. MIND ID tak punya operasional tambang. Dia adalah pemimpin manajemen BUMN tambang. MIND ID fokus pada strategic holding. Dialah yang menggerakan dan motor yang menghidupkan semua anggota-anggotanya untuk bekerja dan berdedikasi untuk membangun negeri.
Transformasi ini adalah implementasi dari PP No. 45 tahun 2022 mengenai Pengurangan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia pada Perusahaan Perseroan (Persero) PT Indonesia Asahan Aluminium dan PP no 46 tahun 2022 mengenai Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia untuk pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pertambangan.
Tujuan dari transformasi MIND ID dan INALUM dalah memisahkan fungsi holding dan operasional yang selama ini melekat pada satu entitas perusahaan. Dengan transformasi ini, MIND ID akan lebih efektif dan efisien mengelola rencana proyek bisnis dan investasi yang menciptakan nilai tambah bagi grup. Transformasi ini juga akan memperkuat tata kelola MIND ID sehingga dapat mengoptimalkan kontribusi perusahaan kepada seluruh pemangku kepentingan.
Hasil transformasi ini cukup menumbuhkan harapan kepada BUMN tambang. Setelah transformasi, aset MIND ID menjadi sangat besar mencapai Rp 259 triliun dengan pendapatan Rp 145 triliun dan laba bersih mencapai Rp 40 triliun tahun 2024.
Dengan holding seperti sekarang, MIND ID fokus pada urusan tata kelolah dan strategi bisnis besar untuk anggota-anggotanya. Di bawah MIND ID, BUMN tambang menjadi lebih lincah berbisnis, transpran, lebih responsive terhadap kepentingan masyarakat lingkar tambang, ESG-nya berjalan dengan baik karena terkait dengan pertambangan berkelanjutan. Itu tentu berkah kepiawaian manajemen melakukan transformasi menyeluruh di anggota-anggota holdingnya.
Fokus Hulu-Hilir
Penguasaan konsesi tambang BUMN tambang sebenarnya sangat luar biasa. BUMN tambang memiliki potensi besar untuk berkompetisi dan menjadi perusahaan kelas dunia. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguasai lima wilayah tambang di Kalimantan dengan luas sekitar 65.000 hektare dan cadangan batubara mencapai 3 miliar ton, dengan produksi rata-rata 50 juta ton per tahun.
Kinerja tersebut menempatkan PTBA sejajar dengan perusahaan swasta nasional besar seperti PT Bumi Resources Tbk dan PT Adaro Indonesia Tbk. Sementara itu, PT Timah Tbk (TINS) merupakan produsen timah terbesar kedua di dunia. Perusahaan ini terus berupaya memperkuat pengelolaan sumber daya di tengah tantangan aktivitas pertambangan ilegal di wilayah Bangka Belitung. Pemerintah sendiri tengah menggencarkan upaya penertiban tambang ilegal agar industri timah nasional semakin kompetitif dan berdaya saing global.
Adapun PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki sejumlah konsesi strategis, mulai dari emas di Pongkor, Jawa Barat, nikel di Pulau Gag dan Sulawesi Tenggara, hingga bauksit di Kalimantan Barat.
Dengan penguasaan konsensi yang begitu besar, sangatlah masuk akal jika MIND ID memimpin strategi bisnis dengan pengembangan bisnis hilir melalui proyek pengembangan pabrik smelter. Anggota holding MIND ID, ANTM misalnya sejak tahun 1973 telah membangun pabrik smelter nikel di Kolaka, Sulawesi Tenggara berkapasitas 27.000 matrik ton. Tahun 2024, ANTM juga telah membangun smelter feronikel di Halmahera Timur (FeniHaltim) berkapasitas 13.500 matrik ton per tahun dengan nilai investasi mencapai Rp 3,5 triliun.
Dengan kapasitas smelter mencapai 13.500 metrik ton feronikel per tahun, ANTM berharap bisa mendapat Return Of Investment (balik modal) cepat dan mendapat untung. Jika proyek itu untung, dividen kepada pemegang saham besar dan penerimaan negara juga ikut besar.
Selain itu, INALUM juga sudah sejak awal membangun pabrik smelter alumina Ingot di Sumatera berkapasitas 300.000 matrik ton per tahun. Pabrik itu menggunakan alumina, karbon dan energi listrik sebagai ingredient utama dalam produksi.
Lebih menarik lagi karena INALUM dan anggota MIND ID lainnya, ANTM telah meresmikan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase 1 di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat dengan kapasitas produksi sebesar 1 juta ton alumina per tahun.
Dari total produksi itu, 500.000 matrik ton akan digunakan INALUM sebagai bahan baku utama produksi aluminium dan sisa 500.000 metrik ton akan dialokasikan untuk memenuhi permintaan pasar. Penetrasi BUMN tambang di pasar ini sangat penting untuk menguasai pasar domestik dan global ke depan.
Apalagi anggota MIND ID, ANTM menjadi salah satu produsen bauksit terbesar di tanah air. Mineral sejenis bauksit saling terkait dengan aluminum. Produksi bauksit ANTM dan anggota holding MIND ID lainnya bisa dipasok di smelter INALUM untuk dikelolah menjadi alumina.
Sebagai contoh, 1 ton alumina membutuhkan 3 ton biji bauksit. Itu artinya, ekspor biji bauksit Indonesia setara dengan hampir 12 juta ton alumina. Sementara 1 ton Ingot membutuhkan 2 ton alumina. Itu artinya, Indonesia mengekspor rata-rata 6 juta ton aluminium per tahun. Dengan harga yang terus naik, sangatlah potensial bagi MIND ID memperoleh pendapatan dari alumina di atas US$15 miliar ke depan.
Indonesia masih memiliki beberapa kemungkinan investasi untuk memproses bauksit menjadi alumina. Namun, investasi untuk membangun proccesing dari alumina mejadi aluminium ingot, hanya dimiliki INALUM. Ada rencana untuk mendorong kapasitas produksi INALUM dari 300.000 ton menjadi 410.000 ton dan terakhir menjadi 600.000 ton per tahun.MIND ID sebagai leader holding sedang berkepansi untuk meningkatkan kapasitas produksi alimina.
Itu langkah strategis untuk mampu melakukan penetrasi di pasar domestik dan global di tengah produksi otomotif yang kian meningkat dan peningkatan produksi kendaraan listrik global. Ini peluang besar untuk menciptakan pasar domestik untuk proyek SGA yang direncakan beberapa perusahaan lokal, termasuk ANTAM. INALUM juga harus bisa bekerja sama dengan beberapa IUP bauksit di tingkat lokal, seperti Harita Group agar rantai pasokan aman.
Dengan pembangunan hilirisasi yang dilakukan anggota holding MIND ID, Indonesia yang selama ini cenderung mengekspor 40 juta ton bauksit per tahun ke Cina, memasuki fase baru, menuju industrialisasi. Di bawah pimpin holding MIND ID, Indonesia memiliki modal besar membangun industri tambang ke depan dan mampu bersaiang dengan korporasi global.
Kerja Kolaborasi
Pembangunan smelter BUMN tambang ke depan tentu membutuhkan pasokan energi murah untuk menghidupi pabrik. Maka, kolaborasi sesama BUMN menjadi sangat penting. Keberpihakan pemerintah terhadap proyek strategis yang sedang dijalankan BUMN tambang dibutuhkan untuk mengurai ego sektoral.
Dalam hal pembangunan proyek smelter misalnya, BP BUMN harus memimpin langsung proyek ini agar sesama BUMN saling menopang. Dalam hal kekurangan listrik untuk pembangunan smelter, pemerintah bisa memberikan subsidi listrik melalui PLN untuk mempercepat pengembangan smelter BUMN tambang.
Kolaborasi antara BUMN perlu didorong, namun perlu mendorong kolaborasi yang saling menguntungkan dan mengikuti mekanisme korporasi. Danantara dan BP BUMN perlu mengajak PLN, dan BUMN tambang untuk duduk bersama bagaimana agar proyek smelter berjalan cepat dan menguntungkan kedua belah pihak.
Selain itu, langkah alternatif yang dapat ditempuh adalah BUMN tambang menjalin negosiasi dengan perusahaan swasta di sektor energi baru terbarukan yang menawarkan harga listrik lebih kompetitif. Jika tawaran itu lebih menguntungkan dan masuk dalam perhitungan bisnis, silahkan berproses. Yang paling penting, semua proses harus berjalan transparan dan akuntabel. (*)
Ferdy Hasiman
Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch
Source Artikel: www.tempo.co
