Jakarta – PT JSI Sinergi Mas (JSI) memperluas kiprah bisnisnya dari operator pelabuhan menuju pertambangan hingga energi berkelanjutan. Perusahaan yang berdiri sejak 2013 ini tengah merampungkan sejumlah strategi, termasuk ekspansi ke pasir silika dan energi hijau, serta aksi korporasi melalui akuisisi saham PT Leyand International Tbk (LAPD).
Direktur Utama sekaligus Founder JSI, Jamal Abdul Nasir mengungkapkan bahwa perusahaan kini memasuki fase transformasi.
“Dulu kami memulai JSI hanya bertiga, kini sudah memasuki tahun ke-12 dengan pertumbuhan yang konsisten,” ujar Jamal dalam keterangannya di Jakarta, Senin (29/9/2025).
JSI awalnya beroperasi di bidang logistik pelabuhan Palaran, lalu berkembang menjadi kontraktor tambang melalui PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS) dengan kontrak 6 juta ton batu bara di Kutai Barat bersama Madani Citra Mandiri. BSS juga tengah melakukan due diligence kontrak tambang emas untuk fase pertama 150.000–200.000 troy ons.
Di sisi pelabuhan, JSI memiliki saham di PT Embalut Sinergi Mas Persada, PT Neon Sinergi Perkasa, dan PT Palaran Sinergi Mas. Perusahaan juga merambah bisnis audit emisi melalui PT Nusa Energi Langgeng Persada (NELP), yang mengoperasikan sistem Continuous Emissions Monitoring System (CEMS) terhubung langsung ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Fokus Silika dan Energi Hijau
JSI kini menyiapkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) pasir silika di Lingga, Kepulauan Riau, dengan target produksi dalam 2–3 bulan ke depan. Komoditas ini diarahkan untuk pasar ekspor ke China, India, dan Korea Selatan, sekaligus mendukung pembangunan industri kaca dan panel surya di Indonesia.
“Silika bukan hanya untuk dijual mentah, tapi akan kami proses sendiri. Kami sudah pesan mesin dari China dan target commissioning 9–10 bulan. Jika IUP keluar, produksi penuh bisa mulai awal 2027. Ini akan jadi pondasi industri hijau JSI,” tegas Jamal.
Dengan diversifikasi tersebut, aset JSI melonjak dari di bawah Rp 100 miliar pada tahun 2022 menjadi di atas Rp 500 miliar pada 2025. Jumlah ini belum termasuk potensi dari silika dan energi bersih.
Namun, Jamal menegaskan pentingnya akses pendanaan. “Kami sudah mencapai titik ini dengan modal terbatas. Bayangkan apa yang bisa dicapai jika punya akses lebih besar melalui pasar modal,” katanya.
Akuisisi Saham LAPD
Sebagai langkah strategis, JSI resmi mengumumkan pengambilalihan mayoritas saham LAPD. Calon pengendali baru itu menargetkan kepemilikan 51% atau 2,02 miliar saham.
JSI sudah mengakumulasi 513,75 juta saham LAPD atau 12,95% hak suara. Transaksi terbaru dilakukan pada 17 September 2025, dengan pembelian 209,23 juta saham di harga Rp 155 per saham senilai Rp 32,43 miliar, serta pada 18 September 2025 dengan pembelian 165,33 juta saham di harga Rp 175 per saham senilai Rp 28,93 miliar.
Dengan akuisisi ini, JSI menegaskan langkah menuju perusahaan pertambangan mineral terintegrasi di Asia.
Pilar Bisnis dan ESG
Secara keseluruhan, JSI menggarap tiga pilar utama: pertambangan, logistik, dan energi hijau.
“Batu bara mungkin tak lagi seksi, tapi tetap dibutuhkan. Maka kami menyiapkan masa depan dari sekarang melalui green energy, audit emisi, hingga solar panel. Kami ingin membangun legacy perusahaan yang berkelanjutan,” tutup Jamal.
Editor: Natasha Khairunisa Amani (tasha.amani@gmail.com)
Source Artikel: www.investor.id
