Jakarta – Entitas Grup Harita, PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) mengguyur modal segar ke perusahaan pengelola smelter aluminium Grup ADRO, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), dengan menebus sebagian saham baru yang diterbitkan KAI.
Direktur Cita Mineral Investindo Yusak Lumba Pardede menyampaikan bahwa perseroan telah mengambil bagian sebanyak 237.039 saham senilai nominal Rp 237 miliar (US$ 14,55 juta) dari total 1.896.312 saham baru yang diterbitkan KAI senilai nominal Rp 1,89 triliun.
Selain CITA, pemegang saham KAI yang lain seperti PT Alamtri Indo Aluminium yang merupakan entitas Grup Alamtri atau ADRO dan Aumay Mining Pte. Ltd. juga menyerap saham baru yang dirilis KAI sesuai dengan porsi kepemilikan mereka masing-masing.
Sehubungan aksi penambahan modal tersebut, CITA kini memegang sebanyak 926.430 (12,5%) saham KAI dengan nilai nominal sejumlah Rp 926 miliar. Sementara, Alamtri Indo Aluminum tetap menjadi pengendali dengan kepemilikan sebanyak 4.817.435 (65%) saham KAI senilai nominal Rp 4,81 triliun, dan Aumay Mining Pte. Ltd. menggenggam 1.667.574 (22,5%) saham KAI dengan nilai nominal Rp 1,66 triliun.
Menurut Yusak, transaksi yang dilakukan CITA tersebut merupakan bagian dari rangkaian transaksi penambahan modal perseroan kepada KAI di tahun ini. Sampai tahun berjalan, perseroan tercatat telah membenamkan modal kepada KAI senilai nominal Rp 419,25 miliar.
“Jumlah tersebut mencakup 5,5% dari jumlah ekuitas perseroan per 31 Desember 2024 yaitu Rp 7,61 triliun,” imbuhnya.
Bukan sekadar mempertebal modal, Yusak menyatakan, transaksi CITA tersebut juga bertujuan untuk mendukung hilirisasi mineral logam sekaligus mendukung pengembangan proyek smelter aluminium milik KAI di kawasan industri Kalimantan Industrial Park Indonesia, Bulungan, Kalimantan Utara.
Melalui smelter aluminium KAI, Yusak menegaskan bahwa CITA ikut berperan dalam program hilirisasi dengan menciptakan nilai tambah terhadap alumina dan menutupi kesenjangan antara suplai dan permintaan aluminium.
“Tidak ada dampak yang tidak menguntungkan terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perseroan,” tuturnya.
Dalam catatan Investor Daily, Direktur PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) Wito Krisnahadi mengungkapkan, smelter senilai sekitar US$ 2 miliar tersebut paling lambat akan mulai produksi pada Desember tahun ini dan ramp up pada tahun depan.
“Jadi, mudah-mudahan semuanya on plan, on schedule, di mana commercial operation date (COD) ditargetkan mulai Desember ini dan ramp up pada kuartal III-IV 2026, sehingga COD penuh sekitar September atau Oktober 2027,” tutur Wito.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Source Artikel: www.investor.id
